Tuesday, April 8, 2014

Terlalu Cepat Mengambil Kesimpulan

Matius 7 : 4
Atau, bagaimanakah kamu akan berkata kepada saudaramu: Izinkanlah aku mengeluarkan selumbar dari matamu ! Namun, lihatlah, ada balok di matamu. (terj. ILT)

Suatu hari seorang pria datang konsultasi kepada dokter pribadinya mengenai penyakit istrinya, "Dok, istri saya sudah tuli", keluh si suami kepada dokternya, "Saya harus berbicara berkali-kali padanya, barulah ia mengerti apa yang saya katakan".
Dokter itu lantas memberi usul, "Coba bicaralah dengannya dari jarak 10 m, jika tidak ada respon coba dari jarak 5 m, jika tidak ada respon lagi coba dari jarak 1 m. Tapi jika tetap tidak ada respon juga, cobalah bicara di dekat telinganya, dari situ kita akan tau tingkat ketuliannya".
Sampai di rumah, si suami langsung mempraktekkan. Pertama-tama dari jarak 10 m ia bertanya pada istrinya "Ma, kamu masak apa malam ini?" Karena tidak terdengar ada jawaban dari sang istri maka ia mencoba dari jarak 5 m, tapi kembali tetap tidak ada respon. Dengan berusaha sabar ia mencoba lagi dari jarak 1 m, hingga akhirnya ia bicara di dekat telinga istrinya "Ma, masak apa kamu malam ini?". Sang istri menjawab "Sayang, sudah 4 kali aku bilang sayur asem". 
Ternyata selama ini sang suami yang terlalu percaya diri dan cepat mengambil kesimpulan dan tidak menyadari bahwa telinganya yang tuli. 

Sering kali dalam kehidupan sehari-hari pertengkaran atau konflik yang terjadi karena seseorang terlalu cepat mengambil kesimpulan dan menyangka orang lain lah yang tuli atau tidak mengerti apa yang kita maksudkan padahal tidak jarang kita lah yang tuli dan tidak memahami apa yang dimaksudkan  orang lain. Yang lebih parah lagi sering kali kita terlalu berani menuduh dan menghakimi Tuhan dan  menganggap Dia tidak mendengar doa kita dan tidak peduli keadaan kita. Tetapi tahukah kita bahwa Tuhan mengetahui kesusahan dan penderitaan kita. Bukan hanya tahu, namun Ia juga sangat memahami bagaimana rasa dan susahnya menjadi seorang manusia ketika sendirian, ketika ditinggalkan atau ketika dihakimi.

Marilah kita tinggalkan kebiasaan menghakimi diri sendiri maupun menghakimi orang lain. Saatnya kita kembali pada kasih yang mula-mula dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang Tuhan, pribadi yang penuh kasih yang menghendaki setiap manusia hidup bahagia dan memuliakan nama-Nya. Inilah kasih karunia Tuhan pada kita semua, oleh karena kita, Tuhan menjadi miskin sekalipun Ia kaya, supaya kita menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.

Sumber : Majalah M-Times Indonesia edisi Maret - April 2013.