Saturday, February 8, 2014

Pengendalian Diri Menentukan Kemakmuran Anda di Masa Depan














Cara kita mengendalikan keuangan sangatlah berpengaruh pada keseluruhan hidup kita, bukan hanya di sisi finansial, tapi juga kerohanian, jasmani, dan hubungan dengan sesama.
Ada satu hal mendasar yang membedakan antara orang yang makmur dan orang yang selalu harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan uang : Pengendalian Diri.

Ilustrasi :
Seorang pemuda telah bekerja seharian di bawah terik matahari, seperti yang biasa dia lakukan karena dia adalah anak sulung di keluarganya. Dalam keadaan lelah dan kelaparan, ia akhirnya pulang. Di rumah, dia bertemu dengan adik laki-lakinya yang membawa semangkuk sup lezat.
Si adik menawarkan sup itu kepadanya, namun syaratnya adalah dia harus menukarnya dengan hak kesulungan yang dia miliki.
Karena rasa lapar yang tidak tertahankan, pemuda ini tanpa pikir panjang setuju dengan syarat tersebut. Diapun memberikan kemakmuran dan kehormatannya di masa yang akan datang demi sebuah kebutuhan sesaat.

Terdengar konyol, bukan?
Namun sulit melihat kekonyolan itu saat peristiwa yang serupa terjadi dalam hidup kita. Ada banyak di antara kita yang menukar kebebasan finansial, kemakmuran dan damai sejahtera demi pakaian indah, mobil baru atau gadget terbaru, yang dibayar dengan kartu kredit atau berhutang.

Apa sebabnya?
Karena kita tidak memiliki pengendalian diri. Tanpa terkontrol, kita begitu mudahnya menukar kebutuhan masa depan demi apa yang kita inginkan sekarang.

Seperti yang kita telah ketahui, kisah diatas menceritakan tentang Yakub dan Esau. Seandainya Esau mampu mengendalikan keinginan hatinya, maka dia tak akan pernah menyerahkan kekuasaan yang dia miliki atas harta dan kemakmuran yang telah dijanjikan kepadanya. Dia pasti sudah hidup nyaman dengan kehormatan selama hidupnya. Namun sebaliknya, justru si adik yang hidup dalam kehormatan dan kemakmuran.

Berapa kali kita telah menukar hal yang benar (seperti uang tabungan) demi kenyamanan sesaat untuk membeli mobil, gadget atau makan-makan di restoran dengan uang yang tidak kita miliki?
Seberapa sering kita kehilangan kendali demi memiliki barang-barang mewah yang tidak bisa kita beli secara tunai dan mengorbankan kemakmuran di masa depan?

Setiap kali kita memutuskan untuk menahan keinginan hati yang sementara dan berusaha menetapkan goal jangka panjang, kita sedang memposisikan diri sebagai pemenang atas keuangan di hidup kita. Belajar mengendalikan keinginan hati itu sama seperti berolahraga. Semakin sering dilakukan, semakin kuatlah kita dan lama-kelamaan hal itu menjadi mudah untuk dilakukan.

Mudah bagi kita untuk melihat dimana kesalahan Esau. Namun, bagaimana dengan diri kita sendiri? Seberapa parah kita bergelut untuk meraih kebebasan finansial? Ketika kita merasa benar-benar membutuhkannya, maka perubahan itupun dimulai, dan kita akan berhenti menukar kemakmuran jangka panjang dengan kesenangan sesaat.

Mulailah mengendalikan keinginan hati kita hari ini, karena masa depan kita ditentukan olehnya.

Sumber : Majalah M-Times Indonesia edisi Januari - Februari 2014.