Sunday, April 13, 2014

Tunggu Sampai Akhir

Yosua 21 : 43
Dan YAHWEH memberikan seluruh negeri itu kepada orang Israel, seperti yang Dia janjikan untuk memberikannya kepada leluhur mereka. Dan mereka mendudukinya, serta tinggal di dalamnya. (terj.ILT)

Perjalanan bangsa Israel kuno keluar dari tanah Mesir menuju tanah Kanaan memiliki banyak pelajaran menarik yang bisa kita ambil untuk kehidupan kita. Satu bagian yang menarik adalah kisah akhir dari perjalanan Israel, yakni ketika mereka yang saat itu dipimpin oleh Yosua pada akhirnya masuk ke dalam tanah perjanjian.

Disitu kita melihat bahwa benarlah Elohim menepati janji yang diucapkan dahulu kepada pendahulu Yosua. Di tengah keadaan rohani bangsa Israel yang naik turun, DIA tetap menunjukkan pribadi-Nya yang layak dipercaya.

Saat ini mungkin ada diantara kita yang mulai goyah iman-Nya kepada Elohim. Kita mulai ragu dan mencoba untuk meninggalkan-Nya karena kita melihat dan bahwa tidak ada perubahan dari keadaan kita. KIta merasa semua janji yang kita terima dari-Nya adalah bohong belaka. Akan tetapi hari ini mari lihat pada apa yang telah terjadi pada bangsa Israel kuno. Meski banyak hal yang mereka lalui, namun akhirnya mereka dibawa Elohim masuk juga ke tanah yang penuh susu dan madu.

Oleh sebab itu, janganlah goyah sedetik pun pada janji-Nya. Tunggulah itu sampai terwujud nyata dalam kehidupan kita. Percayalah, bahwa kesetiaan kita menunggu penggenapan janji-Nya tidak akan pernah berakhir sia-sia. Janganlah kita cepat menjadi kecewa pada Elohim karena Dia pasti menggenapi apa yang sudah dijanjikan-Nya pada umat-Nya.

Sumber : Majalah M-Times Indonesia edisi Maret - April 2013.

Friday, April 11, 2014

Jangan Simpan Sampah

Kisah Para Rasul 7 : 60
Dan, sambil bertekuk lutut, dia berseru dengan suara nyaring, "Ya YAHWEH, jangan tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Dan setelah mengatakan itu, ia pun meninggal.

Stefanus telah melakukan hal yang dilakukan Tuhan Yesus di atas kayu salib, yaitu berdoa bagi mereka yang menganiayanya. Berdoa  untuk keperluan pribadi adalah hal yang baik. Berdoa untuk keperluan orang lain adalah hal yang indah. Namun, berdoa untuk orang lain yang membenci kita adalah hal yang mulia.

Mendoakan orang yang membenci kita tidak hanya berarti memberkati yang bersangkutan, tetapi juga mendatangkan berkat bagi diri kita sendiri. Dengan demikian, kita mengampuni mereka yang bersalah kepada kita dan membebaskan diri kita dari kepahitan hati yang merugikan kesehatan jasmani dan pertumbuhan rohani kita.

Menyimpan kesalahan orang lain dalam hati sama dengan menyimpan sampah yang dilemparkan orang ke halaman rumah kita. Orang yang bijaksana tidak akan menyimpan sampah tersebut di kamar tidurnya, tetapi segera membuangnya ke keranjang sampah. Menyimpannya di kamar bujan hanya tidak menyelesaikan masalah, melainkan juga menimbulkan penyakit.

Sumber : Majalah M-Times Indonesia edisi Maret - April 2013.

Thursday, April 10, 2014

Tuhan yang Lembut & Rendah Hati



Matius 11 : 29
Pikullah kuk-Ku atasmu dan belajarlah dari-Ku, sebab Aku lemah lembut dan rendah hati dan kamu akan mendapatkan kelegaan bagi jiwamu. (terj.ILT)

Sejak awal penciptaan, manusia diciptakan Elohim sebagai makhluk pekerja. Diciptakan dengan tujuan untuk menaklukkan bumi dan segala isinya. Bahkan ketika manusia ditempatkan Elohim di Taman Eden, manusia diberi tugas untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Namun karena manusia jatuh dalam dosa, pekerjaan manusia jadi berat. Susah payah manusia mencari rezeki akan dialami seumur hidupnya. Alkitab menjelaskan bahwa dengan berpeluh/berkeringat manusia akan mencari makanan, dan kesusahan itu akan berakhir ketika manusia kembali lagi menjadi tanah.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa karena begitu besar kasih Elohim pada manusia maka Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang percaya dan menerima-Nya akan diselamatkan dan dipulihkan. Termasuk keselamatan dari kutuk ekonomi dan pekerjaan. Itu artinya bagi mereka yang percaya dan menerima Kristus / Mesias akan mengalami pemulihan dari beban berat yang harus ditanggung akibat kutuk dosa. Sebab Yesus Kristus mengatakan kuk yang dipasang kepada hamba-hamba-Nya itu enak dan beban dari-Nya pun ringan.

Kenapa demikian? Karena yang menjadi bos atau tuan kita adalah pribadi yang lemah lembut dan rendah hati sehingga jiwa kita mendapat ketenangan Betapa bahagianya bila kita memiliki Tuhan dan Elohim yang lemah lembut dan rendah hati, sebab keberadaan kita diterima apa adanya. Bahkan karena Yesus rendah hati beban kita yang terberatpun telah Ia pikul di kayu salib.

Seperti nama-Nya yang adalah Imanuel, Dia pun ikut bersama kita dalam memikul beban kita, bahkan Ia membantu kita dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawab kita.

Sumber : Majalah M-Times Indonesia edisi Maret - April 2013.